Parmalim : penganut Ugamo Malim yang diwariskan oleh para leluhur Batak sejak dahulu kala, saat ini saya merasakan sukacita yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. - WAGE NEWS

Minggu, 05 Juli 2026

Parmalim : penganut Ugamo Malim yang diwariskan oleh para leluhur Batak sejak dahulu kala, saat ini saya merasakan sukacita yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Parmalim : penganut Ugamo Malim yang diwariskan oleh para leluhur Batak sejak dahulu kala, saat ini saya merasakan sukacita yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.






Dengan penuh syukur kepada Debata Mula Jadi Nabolon dan penghormatan yang mulia kepada Sahala Marsangap Sahala Martua, kepada leluhur pendahulu, saya menyambut penetapan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Keputusan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 135 Tahun 2026.

Bagi sebagian orang, mungkin ini hanyalah sebuah hari peringatan. Namun bagi kami, para Parmalim dan seluruh Penghayat Kepercayaan di Indonesia, hal itu  merupakan tonggak sejarah yang sangat bermakna. Sebuah pengakuan bahwa keyakinan yang diwariskan oleh para leluhur Nusantara adalah bagian yang sah, hidup, dan bermartabat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Setelah hampir 81 tahun Republik Indonesia berdiri, penantian panjang itu akhirnya menemukan secercah harapan. Perjuangan yang ditempuh selama puluhan tahun oleh para Penghayat Kepercayaan bukanlah perjuangan untuk meminta keistimewaan, melainkan untuk memperoleh hak yang sama sebagai warga negara; hak untuk diakui, dihormati, dan diperlakukan setara di negeri yang kami cintai bersama.

Atas penetapan ini, saya menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada Pemerintah Republik Indonesia yang telah memberikan penghargaan terhadap eksistensi umat Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai pewaris, penjaga, dan pelestari ajaran luhur leluhur Bumi Putera Nusantara.

Penetapan tanggal 13 Juli bukanlah tanpa alasan. Hari tersebut memiliki akar sejarah yang sangat penting. Pada 13 Juli 1945, dalam sidang BPUPKI yang dipimpin oleh K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat bersama Raden Pandji Soeroso, berhasil dirumuskan frasa "Kepercayaan" dalam Pasal 29 Ayat (2) Undang-Undang Dasar. Peristiwa bersejarah tersebut juga tidak terlepas dari perjuangan tokoh-tokoh Penghayat Kepercayaan, salah satunya K.R.M.T. Wongsonegoro, yang memperjuangkan agar kepercayaan leluhur mendapat tempat yang layak dalam dasar kehidupan bangsa Indonesia.

Sebagai Parmalim, saya meyakini bahwa warisan leluhur bukanlah sekadar peninggalan masa lampau. Ugamo Malim mengajarkan kami untuk menyembah Debata Mula Jadi Nabolon, Tuhan Yang Maha Agung, hidup dalam kebenaran, menjunjung tinggi kejujuran, kesucian hati, kasih kepada sesama, menghormati alam ciptaan Tuhan, serta menjaga adat dan budaya yang diwariskan oleh para leluhur. Nilai-nilai itulah yang terus kami pelihara dari generasi ke generasi.

Namun perjalanan itu tidak selalu mudah. Selama puluhan bahkan ratusan tahun, banyak Penghayat Kepercayaan, termasuk Parmalim, harus hidup di tengah berbagai stigma, kesalahpahaman, bahkan diskriminasi. Tidak sedikit yang dipandang sebelah mata hanya karena memilih tetap setia kepada ajaran leluhurnya. Meski demikian, kami tidak pernah berhenti berdoa, beribadah, menjaga tradisi, adat, budaya , dan mengajarkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda penghayat Kepercayaan. 

Momentum ini hendaknya menjadi pengingat bahwa kepercayaan-kepercayaan leluhur telah hidup di bumi Nusantara jauh sebelum Indonesia merdeka. Warisan spiritual tersebut bukanlah sesuatu yang harus disisihkan, melainkan bagian dari kekayaan peradaban bangsa yang patut dihormati, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Pada kesempatan yang bersejarah ini, saya mengajak seluruh saudara-saudara Penghayat Kepercayaan di seluruh Nusantara, yakni Parmalim di Tanah Batak, Sunda Wiwitan di Tatar Sunda, Kaharingan di Kalimantan, Tonaas Walian di Sulawesi Utara, Tolottang di Sulawesi Selatan, Naurus di Pulau Seram, Marapu di Tanah Sumba, Kapitayan/Kejawen di Tanah Jawa, Halaika di Nusa Tenggara Timur, serta seluruh penganut Ajaran leluhur, Agama Lokal Nusantara ataupun komunitas Penghayat Kepercayaan lainnya untuk terus menjaga persaudaraan, mempererat persatuan, saling menghormati, dan bersama-sama melestarikan ajaran luhur para leluhur Nusantara.

Semoga Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa menjadi momentum untuk memperkuat semangat kebhinekaan, mempererat persaudaraan, serta meneguhkan bahwa setiap warga negara memiliki hak dan martabat yang sama di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebagai seorang Parmalim, saya bersyukur karena harapan itu masih tetap hidup. Saya bangga menjadi bagian dari warisan luhur Leluhur Batak. Saya bangga menjadi bagian dari keluarga besar Penghayat Kepercayaan di Nusantara. Dan saya bangga menjadi bagian dari Indonesia yang terus belajar menghormati seluruh anak bangsanya tanpa membeda-bedakan keyakinan.

Rahayu Mahargya, Rahayu Mahardika, Horas!!!
Anawarata Jayamahe Nusantara. 🇮🇩
Berdaulat, Setara, dan Berdikari di Bhumi Pertiwi.✊
#penghayatkepercayaan #Parmalim #AgamaLeluhur

Comments


EmoticonEmoticon